Jumat, 17 Maret 2017

Melatih kemandirian itu sesuatuh

Melatih kemandirian itu sesuatuh. Bener kata ibu-ibu. Setelah mencoba melatih beberapa kemandirian pada mas D baru deh ikut ngerasain.

Kalau banyak menuntut pasti jadi kesal bin marah bin jengkel bin setress. Apalagi untuk usia dibawah satu tahun. Maka dari itu melatih kemandirian nya sebatas mengenalkan saja,, tak perlu banyak menuntut. Anak senang emakpun ikut senang.

Dilatih setiap hari jika kita konsisten,, lama- lama menjadi kebiasaan kok.

Bismillah...diberi kemudahan dan kekuatan

Sabtu, 04 Maret 2017

Maman sakit, istirahat ya..

Justru dihari akhir tantangan maman sedang tidak sehat. Namin, karena bertepatan dengan weekend maka banyak yang bisa membantu mas D untuk buang air di kamar mandi. Bahkan justru mengejutkan eyang putri yang memang sehari- hari jarang bertemu mas D.

"Eh...eh...eeewh...." teriak mas D saat tengah bermain dengan eyank,, kemudian merangkak cepat ke kamar mandi. Eyang yang memang sudah diinfokan oleh maman bergegas membuka training pants mas D dan memegangi mas D saat pipis.
Sambil memainkan sang Matahari, mas D pipis....setelah itu di basuh dengan air.
"Alhamdulillah selesai" ucap eyang dan mengajak mas D keluar untuk handukkan dan memakai kembali Training pantsnya.

Sore hari, sepulang dari bermain di TPA mas D kembali merangkak cepat di kamar mandi. Kakung mengira mas D ingin cuci tangan dan kaki. Diangkat segera mas D masuk kamar mandi, namun mas D menolak mungkin karena training pantsnya belum dibuka. "Lhoo kenapa kok ga mau masuk? " tanya kakung "ek" jawab mas D. Maman yang tengah minum dan duduk di kursi memberitahukan kalau mas D ingin buang air besar. Kakung merasa tidak bisa menemani, akhirnya memanggil DEra.
Setelah selesai buang air besar, mas D kembali minta di gendong kakung dan menunjuk- nunjuk ke arah keluar tanda meminta kembali ke TPA dengan sebelumnya telah mengambil buku untuk dibawa.

Alhamdulillah hari ini mas D tetap bisa berlatih meskipun maman kurang sehat. Berkat, Eyang putri, kakung dan DEra.

Jumat, 03 Maret 2017

Matahari itu Solusinya

Hari pertama latihan buang air, setelah yang kemarin gagal total. Tapi karena pagi hingga siang di luar rumah,, maka dimulai sejak pukul 14.00.

Sebenarnya mas D sejak lahir selalu merasa risih jika kotor, baik BAK maupun BAB. Sehingga,, sejak mulai merangkak jika ingin BAK dan BAB selalu sdh mojok di pintu kamar mandi. Jadiii....sebenarnya dan kudunya dah lulus ya? Hihihi

Pagi tadi dapat tulisan menarik dari pak Harry Santosa, guru kami.
Kami tulis ulang disini ya;

Apakah anak dibawah 7tahun tidak boleh diajarkan adab atau mandiri atau Disiplin?

Oleh: Harry Santosa

Ayah Bunda yang baik fitrahnya,

Anak anak kita di bawah 7 tahun ini fitrahnya masih baru tumbuh merekah sedang indah indahnya. Jadi harus hati-hati benar dan sepenuhnya mencintainya.

Para psikolog menyebut masa ini masih pra latih atau pra operasional. Dalam perspektif perkembangan manusia, masa ini anak belum punya tanggungjawab moral apalagi sosial.

Karenanya dalam Islam, orangtua baru diperintahkan utk memerintahkan anaknya (untuk sholat) di usia 7 tahun bukan sejak dini, apakah Allah lalai?

Tentu Maha Suci Allah, karena Allahlah Yang Paling Tahu fitrah manusia. Tiada anak di bawah 7 tahun yg suka gerakan formal dan tertib.

Begitupula banyak hadits bertebaran ttg betapa pentingnya merawat imaji imaji keindahan anak di bawah 7 tahun. Imaji dan abstraksi anak sedang puncaknya.

Maka betapa penting dan besarnya pahala bermain, bercanda dan membahagiakan hati anak.

Pesan Rasulullah SAW :

"Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya. Siapa yang mengembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau (bercanda) untuk menyenangkan hati anaknya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla"

Para ulama juga mengingatkan agar menunda semua bentuk cerita ttg neraka, hari kiamat, perang akhir zaman, dajjal dsbnya, pd anak di bawah 7 tahun.

Lantas, apa tidak dididik adab, disiplin, mandiri dll????

Tentu saja dididik, tetapi mendidik berbeda dengan mengajarkan. Mendidik itu menumbuhkan antusias, gairah, cinta, dsbnya.

Mendidik itu mirip berdakwah, sangat memperhatikan tahapan usia, kematangan, perasaan, fikiran, sifat dari obyek dakwah.

Apalagi anak di bawah 7 tahun, tentu kita harus sangat bijak dan kreatif, cinta sekaligus logika (nalar) agar tidak menciderai fitrahnya.

Jadi?

Nah,

1. Inspirasikan, Imajikan dan teladankan indahnya perilaku baik melalui kisah kisah indah maupun contoh langsung.

Jangan paksa melakukan kebaikan jika sedang tidak mau, karena mereka belum memiliki kesadaran akan nilai, namun di waktu yang nyaman dan menyenangkan, perbanyak menginspirasi dan meneladankan.

Misalnya ajaklah anak membereskan mainan dengan bermain dan seru, ajaklah anak makan bersama dengan anak anak yatim dan membagikan hadiah utk mereka dsbnya, ini jauh lebih berkesan indah sepanjang hayat anak, daripada cara cara shortcut.

Jadi asah dan tajamkan naluri dan nurani fitrah keayahan atau fitrah keibuan kita, temukan cara2 keren dan menyenangkan.

2. Salurkan potensi energinya dan sifat uniknya, jangan membenturkannya dengan akhlak dan adab.

Misalnya anak yang suka cerewet dimarahi padahal ini potensi suka berkomunikasi. Anak yang suka keras kepala dihukum padahal ini potensi pemimpin dll.

Jika suka berkomunikasi (cerewet), jadikan dia direktur humas di rumah, beri tugas yang banyak bicara, misalnya beri panggung untuk bercerita dan berkisah, dengarkan dengan antusias. Beri jadwal menyapa nenek dan kakek, mengantarkan makanan atau undangan ke tetangga dll. Lihatlah betapa antusias dan gerak semangatnya ketika menjalaninya.

Jika suka memimpin, maka jadikan pimpro dalam kegiatan sederhana, misalnya pimpro jalan jalan, pimpro berkebun atau memelihara hewan dll. Lihatlah binar matanya ketika menerima dan menjalankan tugas itu.

3. Banyaklah berempati menggali perasaannya, berhenti menggunakan kacamata kita dalam menyerap maksud perilaku anak, gunakanlah kacamata anak.

Setiap perilaku anak yang nampak nakal adalah jeritan hati anak yang tak bertemu jalan keluarnya, maka tangkaplah maknanya, bacalah binar atau redup matanya, amati gestur tubuhnya dll. Temukan kebutuhannya dan solusinya.

4. Dahulukan pesan kebaikan bukan pesan keburukan. Jika anak naik meja makan, daripada berteriak, "jangan nakal, jangan naik, nanti jatuh, nanti kotor..." sebaiknya katakan "nak, meja itu utk makan ya sayaang, kaki kamu utk jalan di lantai atau jalan ke masjid"

Anak akan mengingat kebaikan lebih banyak dan berkesan daripada keburukan.

5. Adabkan anak dengan cinta, sehingga dia cinta pada adab. Temukan cara dan waktu yg tepat utk membuatnya bergairah pada kebaikan.

Anak di bawah usia 7 tahun yang terlalu cepat diadabkan dengan cara cara yang tidak alamiah (shortcut) maka kelak kita temukan anak yang tidak beradab karena mereka menangkap kesan buruk tentang adab, lalu membenci adab sepanjang hidupnya.

Ingatlah bahwa adab bukan tentang disiplin dan etika, namun tentang perbuatan yang berderajat dan bermartabat indah yang sesuai dengan fitrah manusia..

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak 
#fitrahbasededucation

Berbekal artikel itulah maman bertekad akan mengajarkan mas D untuk pipis sambil duduk. Bukankah begitu sunahnya?.
Berkali-kali diminta agar pipis sambil jika jongkok belum juga sukses. Akhirnya sesiangan tadi maman memutar otak mencari cara agar mas D mau pipis posisi Jongkok. Maman memperhatikan berkali-kali mas D akan jongkok ketika meraih sesuatu yang menarik misalnya seperti siang tadi, mas D tetiba jongkok mengobservasi plastik pengganjal tutup bak mandi. Berkat Emisol (Empati, Imajinasi dan Solusi,, pinjam istilah bang Ical). Ahaaaa, akhirnya maman menempel stiker matahari yang baru dibeli siang tadi di bak kamar mandi. Posisinya hampir dekat tutup bak,, sehingga bisa diraih jika mas D jongkok. Alhamdulillah,, sejak itu mas D pipis dan cebok selalu jongkok. Hihi...ga gontok2an bahkan sampai kepleset berdua lagi deh

Kamis, 02 Maret 2017

GaTot

Latihan kemandirian buang Air hari kedua GaTot,, alias gagal Total. Kenapa? Karena maman agak kurang konsisten. Pagi tadi, maman dan mas D ditemani kakung melakukan kegiatan belajar bersama alam, duh aduh bahasanya. Padahal mah nangkap ikan di kali pakai Jaring. Yap, pagi tadi maman, mas D dan kakung bermain di tepi kali untuk mencari bibit ikan wader, guna memulai proyek maman.

Terbayang donk, kerepotannya jika mesti ga berdiaper? Yang mana disana ga ada wc umum, arus kalipun suangaaat deres. Belum lagi setiap satu jam mengangkat jaring (duh..duh....alasannya banyak).

Jadi sudah diputuskan bahwa Jumat maman dan mas D akan memulai dari nol latihan kemandirian buang air.

Seharian kemarin maman dan mas D banyak belajar, terutama mas D. Belajar pegang rumput, pegang tanah, pegang ikan, belajar mengenal ikan sapu-sapu. Serta belajar makan pakai tangan (kalau ini sich bukan belajar lagi, sudah naluri). Kerennya sebelum makan, mas D meminta maman untuk mencuci tangannya terlebih dahulu, sambil menunjukkan telapak tangannya yang kotor.  Karena tidak ada air bersih, maman me-lap tangan mas D hanya memakai tisu.

Terima kasih mas D, pengalaman berharga kemarin, setelah ini kita semangat ya...latihan kemandirian buang airnya.

Rabu, 01 Maret 2017

My first day

Hari ini hari pertama maman dan mas D bekerja sama untuk berlatih kemandirian toilet training.

Pagi hingga siang lancar jaya, bukan mas D memberi isyarat dengan bicara melainkan maman dengan ilmu titennya.

Sebenarnya mas D sejak H+4 lahir sdh di tatur hanya saja maman masih suka kurang konsisten. Mas D masih tetap mengenakan diaper saat proses, maman mengantarkan ke kamar mandi tiap 30-60 menit sekali. Kadang sukses kadang gagal (pipis di celana). Namun, maman selalu ingat Toilet Training sebaiknya dilakukan dengan gembira.